Archive for February, 2009

ERAU Sang Naga

Wednesday, February 25th, 2009

(1)
tubuh itu begitu lebar, dari sisi kiri ke kanan tepian
seluruh arus air tunduk patuh padanya
warna coklat kemerah-merahan bulu pelanduk
ia tenang dalam pagi, siang, dan malam

(more…)

Persembahan Teruntuk Petani Tembakau

Monday, February 23rd, 2009

liat tanah kuning keemasan
kering kerontang perbukitan
tak pernah ada kata mengeluh
lembaran daun hijau tumbuh

mengkilat terbakar hari
cangkul mengayun berulang kali
tubuh-tubuh hitam legam
kumis lebat menghitam

tanah ini tak berair
tanaman ini haus air
sanggup tumbuh dalam gersang
hingga petani sedikit tenang

sekolah sudah mulai tiba
panen belum datang
nasib buruk di depan mata
rentenir tersenyum girang

fatwa haram menggelinding tajam
gemeretak gigi tak tertahankan
ribuan petani tak tinggal diam
bergerak atau mati dalam kemiskinan

Kepada Petani Tembakau Pulau Madura

Ronald J Warsa/ 23 Februari 2009

Saat Sholat Tak Pernah Usang

Saturday, February 21st, 2009

di ruang kantor aku sendiri
saat dinding melempar senyum
detak jantung begitu kencang
kuatkan hati pandangi sunyi

di ruang kantor aku bernyanyi
dengan iringan musik menggebu
suara ini mengalahkan bunyi
binatang malam pun tersaingi

di ruang kantor aku sendiri
monitor komputer menemani
tust…tust…tust suara tombol
saat jari-jari tangan berjapin

di ruang kantor aku berdiri
ginjal ini tak mau di ajak kompromi
suara air seni bergulir kencang
siraman segayung air menghantarkan

di ruang kantor aku diam
memandang malam hitam pekat
suara adzan Shubuh membahana
saat diri masih merasa muda

Tirai jendela aku buka
kulihat gelap masih menggelayut manja
jiwa ini mulai gersang
maka sholat menjadi tak pernah usang

Ronald J Warsa /23 Februari 2009
Kelahiran Loa Janan – Samarinda Seberang

Bekas Buku, Bekas-Bekas, Buku-Buku, Buku Bekas

Friday, February 6th, 2009

Sesuatu yang berbau bekas, membuat kita berusaha jauh darinya. Bekas istrinya orang, bekas narapidana, bekas preman, bekas penjahat, bekas pejabat, bekas teman. Dan itu semua pelabelan yang amat mudah untuk diucapkan oleh seseorang. Adakah kita mengambil hikmah dari sesuatu yang kita katakan bekas tersebut. Seperti halnya saat kita merindukan sebuah buku dengan kualitas tinggi dan mempunyai nilai sejarah yang luar biasa. Tetapi kita tidak dapat mencarinya dideretan buku baru dengan suasana dingin dari Air Condisioner yang terus menyala. Ternyata buku tersebut berada disebuah tempat yang tidak begitu baik, malah tempat yang sama persis dengan sebuah Warteg. Apakah aku akan menjauh dari buku bekas tersebut, padahal aku sangat membutuhkan isi yang terkandung didalam kertas berwana kekuningan dan sebagain kecil halamanya dimakan rayap. Bekas Buku, Bekas-Bekas, Buku-Buku, Buku Bekas.

Rak sederhana, dengan sentuhan lukisan “Kampung Budaya Malang”

(more…)

DI BALIK TEMBOK

Friday, February 6th, 2009

Entah apa yang terbersit dibalik sebuah tembok, saat kudengar seseorang bernyanyi. Maka kakiku mengajak untuk segera melihat dengan mata. Lalu kuabadikan dalam bentuk Photo sederhana. Sesuatu di Balik Tembok.

(more…)

Mantan Narapidana

Sunday, February 1st, 2009

Tubuh pria berbadan besar dan berwarna hitam itu basah oleh air yang dingin saat shubuh. la sedang mempersiapkan dirinya yang akan kemali menghirup udara bebas. Hampir 7 Tahun menerima hukuman penjara, akibat melakukan pembunuhan terhadap salah seorang pimpinan Gank Ambon. Fajar pagi tampak tersenyum dengan lembut, seakan tahu bahwa yang akan keluar dari Lembaga Pemasyarakatan adalah orang-orang yang memiliki mental dan kekuatan yang lebih di banding saat mereka pertama kali masuk ke bui. Baju kaus hitam berlambang tengkorak itu adalah pemberian seorang sipir penjara tua yang miskin dan terkenal jujur. Sipir yang bernama Sobari itu berkata, “Pakailah pakaian bersih ini. Jangan pernah engkau kembali ke sini. Kalau kau teringat aku datanglah pada hari minggu di surau dekat jembatan besi. Aku pasti ada disana, jangan sampai kau membunuh orang hanya untuk dapat bertemu denganku”. Pria besar itu kemudian memeluk erat tubuh tua yang mulai keriput. Jam sembilan pagi. Perlahan-lahan pintu besi bergembok, terbuka. Dimana hanya ada dua orang sipir yang melepas kepergian mantan pesakitan itu. (more…)