FB Dan Pria Ransel

Berisikan tas ransel dengan sebotol air mineral sebagai bekal, lelaki itu berjalan menyusuri koridor terminal bis antar provinsi. Dari keringat yang menetes di dahinya, hari itu tampaknya panas sekali. Hanya orang memiliki janji atau sebuah rencana besarlah yang mampu hadapi aroma bau keringat berbaur dengan surya meninggi.
Lalu-lalang aktivitas kehidupan manusia, begitu padat dalam pandangan lelaki pembawa ransel. Jika saja tiada peristiwa peluruh segala kesumat, tentu tidak sejauh ini Ia berani berjalan sendiri. Siapa yang meyangka jika sebuah peristiwa, yang hanya berlangsung selama Lima Belas menit itu menjadi awal pembebasan. Sebuah letupan yang bukan berasal dari dirinya, tetapi dipicu oleh momentum ledakan amarah manusia lain.
“Apa yang kau kerjakan, aku melihat seharian ini kau hanya bermain FB semata,” ujar seorang yang menikmati empuknya penderitaan sebagian orang. Lalu pria ransel tersebut menjawab, Saya mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab serta mengalir bersama kebiasaan dikantor ini. Mata nanar dari atasanya tersebut, nampak berkilat melebihi cahaya petir disiang bolong. Hingga kemudian percakapan itu berlanjut, dengan hal-hal yang diluar kendali pimpinan tersebut.
“Kau ini jangan merasa menjadi orang lama, Aku ini lebih lama ketimbang dirimu. Hanya saja saat bisnis didik manusia ini mulai berjalan, kami dihadapkan pada urusan lain,” ujarnya meninggi. Pria ransel kemudian menjawab, ada urusan apa antara lama dan baru untuk hal yang seperti ini. Toh apa yang menjadi tugas telah saya lakukan dengan baik, serta diingat saat ini bukan waktunya pelaporan. Seperti biasa tugas akan dikirim setelah pelaksanaanya usai, dan salah jika menilai sesuatu pada saat acara sedang berjalan ini.
“Jangan pernah merasa lebih pintar, untung saja kau masih ditolong oleh lembaga ini. Sehingga tidak sampai menjadi binatang jalanan, dirimu itu. Kalau saja engkau beryukur tentang hal ini, maka pasti engkau akan malu hati,” jelasnya. Pria ransel kemudian mengatakan, Aku tidak pernah merasa berhutang pada siapa-siapa, toh selama ini aku berdiri pada kaki dan tenaga yang ada dalam tubuhku. Jadi maaf saja, jangan pernah merasa aku akan takluk oleh ancaman dan ketusnya bibir busukmu itu.
Atasannya tersebut kemudian, tiada mampu lagi menahan emosi sehingga amarahnya diledakkan pada detik itu pula. “Asal saja engkau tahu, banyak orang yang lebih baik bekerja ketimbang dirimu dan berminat pada pekerjaan ini,” ujarnya. “Silahkan saja engkau menuruti kehendak mu itu, aku tidak sedikitpun goyah tentang apa yang aku perbuat ini. Karena itu jangan pernah engkau, berani menyentuh dunia pikiran dan imajinasi ini. Sudah tubuh terkurung keemasan semu dan kebaikan bertipu muslihat ini, jangan sampai kau memaksa masuk dalam ruang luar biasa ini,” ungkap pria ransel.
Selama ini memang banyak yang menilai pria ransel dengan sebelah mata. Hal ini bermula pada apa yang Ia lakukan, yaitu pengumpul sampah dan pembersih WC yang penuh kotoran manusia berwajah intelektual. Tetapi keberanian pada dirinya muncul saat FB, mampu menghadirkan sisi dirinya yang selama ini terpendam. Ia merasa merdeka, untuk menjadi manusia seutuhnya yang bebas berfikir dan berekspresi tanpa henti.
Perang tiada terjadi, tetapi hantaran pada pengunduran diri adalah ultimatum laur biasa dari seseorang yang selama ini merasa terdzholimi. Pada waktu yang terkekang, pada kesempatan yang berkurang, pada aturan yang tiada berjalan dengan semestinya, dan pada pengkultusan tokoh-tokoh dengan lembut tetapi otoriter komplek.
Saat bis yang ditumpangi pria ransel memacu keluar terminal, wajahnya menjadi bahagia sekali. Hingga air mata pembebasan mengalir melegakan, kini semua telah memilih pada jalan prinsip hidup masing-masing. Jika pada pertemuan pertama posisi pria ransel adalah yang paling bawah. Maka pada pertemuan selanjutnya akan ada penyeimbang, yang tiada diduga oleh pimpinan tersebut. Dunia ini berputar seperti roda, nasib baik dan buruk silih berganti dengan sangat cepat. Maka akan ada saat itu terjadi, dan tetap didunia nyata adegannya. Dimana peristiwa itu akan terjadi, tetapi pada posisi yang berlawanan tentunya! Semoga kekhilafan itu tidak terjadi lagi pada saat pria ransel, berada pada posisi puncak.
Kerja adalah keharusan manusia untuk mampu bertahan hidup, namun dalam pekerjaan yang dilakukan jangan pernah menganggap manusia pekerja sebagai sapi perahan. Tubuh boleh terikat pada besi hitam, tetapi tiada boleh besi itu masuk pada kebebasan berfikir dan berimajinasi.
sumber photo; www.vagabondish.com/wp-content/uploads/backpacker-paris.jpg