MAKAM KAYU
MAKAM KAYU
Kapan terakhir air mata ini menghantam deras
saat bertafakur di makam kayu, namun tiada berbekas
gundukan-gundukan tanah memerah untuk mengenang
jejak-jejak kaki peziarah hilang dibawa musim mengering
pada garis khatulistiwa engkau terbenam lama
Pintu yang selalu terbuka oleh pengharapan tiada terkira
bola mata mengarah pada penanda sebuah makam
tepat pada arah kiblat untuk wajah lelaki tua
aku tak sanggup mengedipkan mata pada yang terbenam
suatu peristiwa di saat matahari hendak terbenam
Sepatu ini selalu aku gadang-gadangkan untuknya
betapa tanah-tanah harapan tersangkut di sela-sela kewajiban
pada sebuah makam kayu, tiada henti doa di panjatkan
aku dan kau tiada mampu bicara sepatah kata
makam kayu aku mewakilkan sepenuh-penuhnya pelukan
Ronall J Warsa
31 Agustus 2009, Rondong Demang – Kalimantan Timur
Tags: kalimantan timur, khatulistiwa, makam kayu, peziarah, rondong demang