FB Dan Pria Ransel
Saturday, July 18th, 2009

Berisikan tas ransel dengan sebotol air mineral sebagai bekal, lelaki itu berjalan menyusuri koridor terminal bis antar provinsi. Dari keringat yang menetes di dahinya, hari itu tampaknya panas sekali. Hanya orang memiliki janji atau sebuah rencana besarlah yang mampu hadapi aroma bau keringat berbaur dengan surya meninggi.
Lalu-lalang aktivitas kehidupan manusia, begitu padat dalam pandangan lelaki pembawa ransel. Jika saja tiada peristiwa peluruh segala kesumat, tentu tidak sejauh ini Ia berani berjalan sendiri. Siapa yang meyangka jika sebuah peristiwa, yang hanya berlangsung selama Lima Belas menit itu menjadi awal pembebasan. Sebuah letupan yang bukan berasal dari dirinya, tetapi dipicu oleh momentum ledakan amarah manusia lain.